PUASA, KONSISTENSI TAQWA, DAN KEMENANGAN

Posted on: June 11, 2019, by :

(Khotbah Idul Fitri 1440 H)

Oleh : H. Albirruni Siregar, Lc *)

 

السلام عليكم و رحمةالله و بركاته

(3×)الله أكبر

(3×)الله أكبر

(3×)الله أكبر

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا،وَالْحَمْدُلله كَثِيْرًا،وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيْلاً. لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ،صَدَقَ وَعْدَهُ، وَ نَصَرَ عَبْدَهُ، وَ أَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ هُوَاللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَر ُوَللهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُللهِ الًّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ اَحَسَنُ عَمَلاَ، وَ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالتَّقْوَى وَ نَهَانَاعَنِ اتِّبَاعِ الْهَوَى.

أَشْهَدُأَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ،الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، الَّذِيْ أَوْضَحَ الطَّرِيْقَ لِلطَّالِبِيْنَ، وَ سَهَلَ مَنْهَجَ السَّعَادَةِ لِلْمُتَّقِيْنَ.

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِالأَمِيْنَ وَاْلإِمَامُ ِللْمُتَّقِيْنَ.

صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَأَفْضَلُ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ ص م وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

‘Ammaba’du

 Allâhuakbar 3x, walillâhilhamd.

Ma’asyiral Musliminrahimakumullâh. Jama’ah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah.

Hari ini adalah hari yang fitri, hari di mana kaum muslimin sedunia merayakan momentum kembali kepada fitrah, kembali kepada kesucian diri, kembali kepada kejernihan sanubari, dan kembali kepada kesadaran yang optimal tentang tiada yang lebih Agung dari Allah Yang Maha Agung, tiada yang lebih patut disyukuri, kecuali kesyukuran atas kenikmatan Iman dan Islam yang telah diberikan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, syukur nikmat atas kesempatan untuk meraih kemenangan kembali setelah 30 hari ditempa dengan amanah Ramadhan berupa puasa (shiyam), qiyamul-lail, sedekah, sillaturrahim, dan ketaatan total dalam ketundukan yang paripurna dalam setiap detik, menit, jam di dalam syahdu-nya nuansa Ramadhan.

Ramadhan adalah bulan diwajibkan di dalamnya ibadah puasa. Hanya dalam 5 ayat Sang Pemilik bulan suci ini melegalkan Ramadhan sebagai bulan puasa lengkap dengan segala ketentuannya, yang tiada berulang di dalam Al-Qur’an pada ayat dan surat lainnya. Berbeda dengan perintah mentauhidkan Allah, membayar zakat, dan berhaji, yang disebut berulang-ulang di berbagai ayat dan surat di dalam kitabullah.

Ramadhan dikemas begitu indahnya dalam balutan firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah: 183 – 187.

Di dalam QS. Al-Baqarah: 183, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkanataskamuberpuasasebagaimanadiwajibkanatas orang-orang sebelumkamu agar kamubertakwa.

Ayat ini diawali dengan harfun-nidaa’ (kalimat panggilan) : “Ya Ayyuhalladziina aamanuu”. Ibnu ‘Umar Rhadiyallahu ‘anhuma berkata: Jika engkau mendengar Allah menyeru dengan kata “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواmaka siapkan pendengaranmu dengan sebaik-baiknya, karena setelah seruan itu pasti ada kebaikan yang diperintahkan atau keburukan yang harus dijauhi, serta Allah menjanjikan derajat kebaikan yang tinggi jika perintah yang diserukan-Nya dipatuhi.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Dalam ayat tersebut, Allah menyeru kepada orang-orang yang beriman saja, untuk mengemban amanah berupa ibadah puasa, yang ending-nya adalah menjadi orang-orang yang senantiasa bertaqwa.

Mengapa yang diseru hanya orang yang beriman?

Karena hanya orang yang beriman yang mampu mengemban amanah berupa puasa tersebut, sebagaimana karakter orang-orang yang beriman Allah firmankan dalam QS. Al-Mu’minun :1 – 11,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman

الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

(yaitu) orang-orang yang khusyu’dalam shalatnya.

(= Yaitu orang-orang yang mampu berkonsentrasi penuh dalam menegakkan shalat, tidak terlena dengan godaan syaithan dan godaan dunia)

وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

dan orang-orang yang menjauhkandiridari (perbuatandanperkataan) yang tiadaberguna

(=orang-orang yang konsisten dalam menutup diri dari berkata, bercerita, dan mendengarkan hal-hal yang tiada bermanfaat untuk dirinya dan untuk khalayak manusia. Orang-orang yang santun bertutur kata dan bertindak)

وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُون

dan orang-orang yang (senantiasa)menunaikan zakat.

(=yaitu orang-orang berjiwa dermawan, ringan tangan dalam membantu, hatinya terketuk ketika melihat kesengsaraan di depan matanya).

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ

dan orang-orang yang menjagakemaluannya

(=yaitu orang-orang yang beradab, mematuhi rambu-rambu Allah dalam bergaul dan bermuamalat dengan sesama)

إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ

kecualiterhadapisteri-isterimerekaataubudak yang merekamiliki; makasesungguhnyamerekadalamhalinitiadatercela

(= orang-orang yang tahu diri, suami-suami yang memperlakukan isteri-isterinya dengan akhlakul karimah)

فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

Barangsiapamencari yang di balikitumakamerekaitulah orang-orang yang melampauibatas

(=Orang-orang beriman adalah orang-orang yang tahu batas-batas yang diperbolehkan, yang tidak crossing-over menabrak ketentuan-ketentuan yang Allah tetapkan).

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

Dan orang-orang yang memeliharaamanat-amanat (yang dipikulnya) danjanjinya.

(= Orang-orang yang beriman adalah yang tepat janji, tidak mengumbar janji namun mengingkari)

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

dan orang-orang yang memeliharashalatnya.

(= orang-orang yang mampu memprioritaskan shalat daripada kepentingan dunianya, orang-orang yang lebih takut kepada Allah daripada kepada atasannya di dunia kerjanya).

أُولَٰئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ

Merekaitulah orang-orang yang akanmewarisi

الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

(yakni) yang akanmewarisisurgaFirdaus. Merekakekal di dalamnya.

(= mereka orang-orang beriman itu adalah yang mewarisi sifat-sifat terpuji dari Rasulullah, yang kelak akan bersama-sama Rasulullah di Surga Firdaus)

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, sidang shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah

Kalau diibaratkan laksana wadah atau gelas, maka gelas itu adalah iman, air yang mengisi wadah itu adalah ibadah puasa, maka hilangnya rasa dahaga itu adalah taqwa.

“La’allakum tattaquun”

Demikian Allah mengakhiri ayat 183 dari QS. Al-Baqarah tersebut.

Dr. Muhammad Sayyid Thantawi, mantan Grand Syaikh Al-Azhar Mesir, dalam karyanya At-Tafsir Al-Wasith lil Qur’anil Karim, mengatakan bahwa “la’allakum tattaqun” adalah jumlah ta’liliyyah yang dipergunakan untuk menjelaskan hikmah dibalik disyariatkannya puasa, seakan Allah mengatakan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman : “Kami telah mewajibkan atas kalian ibadah puasa sebagaimana telah Kami wajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian dengan mengerjakan kewajiban puasa tersebut kelak akan memperoleh derajat taqwa dan al-khasyiyah/takut dari Allah, yang dengan derajat yang sedemikian itu maka “radhiyallahu ‘anhum wa radhu ‘anhu” ; “Allah ridha dari apa yang mereka kerjakan dan mereka pun ridha akan apa yang Allah perintahkan”.

Maka tidaklah diragukan, bahwa kewajiban puasa ini akan meninggikan derajat orang yang mengerjakannya kepada sebaik-baiknya level derajat kedudukan sepanjang hal itu dikerjakan sesuai dengan adab-adab dan syarat-syaratnya.

Maka cukuplah menjadi bukti ketika Rasulullah mengatakan perihal puasa “Ash-shawmu junnah”; Puasa itu adalah perisai, puasa itu ialah pelindung. Karena di dalam puasa itu ada perlindungan bagi yang mengerjakannya dari terperosok ke dalam kubangan maksiat, puasa menjadi pelindung baginya dari azab di akhirat, puasa menjadi pelindung bagi yang melakukannya dari penyakit-penyakit yang sering kali muncul akibat ketidakseimbangan tubuh dalam mengkonsumsi makanan dan minuman. Puasa ibarat filter yang mampu menyaring diri dari “racun” perilaku-perilaku yang merugikan.

Prof. Dr. Syaikh Muhammad Ath-Thahir bin ‘Asyur, seorang ulama tersohor Tunisia dalam karya tafsirnya “At-Tahrir wat-Tanwir” mengatakan bahwa puasa adalah mengurangi kadar konsumsi makanan dari takaran mencapai batas yang dikatakan kenyang atau dengan kata lain meninggalkan sebagian konsumsi makanan. Sehingga orang yang berpuasa sejatinya adalah orang yang merubah kebiasaan makannya yang semula bertargetkan kenyang, menjadi cukup.

Bin ‘Asyur mengatakan bahwa manusia itu memiliki dua kekuatan, yang pertama adalah kekuatan rohaniah yang terbangun dari dari indera-indera batiniah, dan yang kedua adalah kekuatan hayawaniyyah yang terbangun dari anggota jasmaniah. Makanan ghadzaiyyahyang dikonsumsi oleh tubuh manusia pada saat puasa berkurang kadarnya, sehingga kekuatan hayawaniyyah menjadi tidak lagi dominan dalam diri manusia, yang mengakibatkan kekuatan rohaniah mengunggulinya. Keunggulan kekuatan rohaniah ini lah yang pada akhirnya menuntun manusia menjadi mampu mengorganisir jiwanya. Kemampuan manusia dalam mengorganisir jiwanya inilah yang akrab disebut “tazkiyatun nafs” yaitu proses pensucian jiwa. Sehingga pendek kata, puasa adalah tranportasi bagi orang yang beriman dalam berproses mensucikan jiwanya, untuk meraih derajat taqwa, yaitu kedudukan di mana manusia yang suci sedemikian dekatnya dengan Allah Yang Maha Suci, sehingga tiada tabir penghalang antara dirinya dan Dzat Yang Maha Suci tersebut.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,  jama’ah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah

30 hari telah kita lalui bersama dalam madrasah Ramadhan. Ramadhan telah mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi insan yang “tattaqun”. Tattaqun adalah kata kerja dari Taqwa. Allah berfirman dengan “la’allakum tattaquun”, “agar kalian senantiasa bertakwa”. “La’allakum Tattaqun” adalah lebih bermakna dengan tafsiran “agar kalian konsisten dengan perilaku taqwa kalian”.

Dengan puasa sebulan penuh, manusia beriman terbiasa dengan konsistensi taqwa. Konsistensi taqwa inilah nilai terpenting yang patut diraih oleh orang-orang yang beriman dengan media puasanya. Itu sebabnya mengapa ayat ini tidak diakhiri dengan “li takuunul muttaqiin” ; “agar kalian menjadi orang yang bertaqwa”, namun dengan “la’allakum tattaqun”. Maksudnya agar orang-orang yang berpuasa mampu untuk terus menerus memperbarui kualitas taqwa-nya baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Sehingga Ramadhan tidak dijadikan musim taqwa yang menghasilkan pribadi-pribadi yang taqwa musiman, namun justru ketaqwaannya semakin meningkat.

Hal ini selaras dengan hadits nabi saw : Dari Abi Dzar Jundub ibn Junadah RA, dari Rasulullah saw bersabda: “Ittaqillaha haitsuma kunta, wa atbi’issayyiatal hasanata tamhuha, wa khaliqinnaasa bi khuluqin hasanin”

“Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan ikutilah kekhilafanmu dengan kebaikan-kebaikan yang dengan kebaikan tersebut akan menghapuskan khilaf/dosamu, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik”

Dr. Muhammad Bakr Ismail, dosen Tafsir dan Ulumul Qur’an di Universitas Al-Azhar Kairo, dalam karyanya Washoyar-Rasul wa atsaruha fi taqwimil fardi wa ishlahil mujtama’, mengutip hadits ini dan memberikan syarh, bahwa taqwa sejatinya wajib dilakukan di mana saja berada, fi ayyi zamanin wa makanin, anytime and anywhere, kapan saja dan dimanapun berada. Sehingga taqwa itu sepatutnya menjadi lifestyle bagi setiap orang yang beriman.

Kalau saja taqwa menjadi lifestyle niscaya mukmin itu tidak akan pernah “bangkrut”, karena setiap kebaikan yang dia kerjakan atas dasar taqwa akan mendapatkan pahala dari sisi Allah, yang pahala tersebut akan menghapus jejak keburukan yang pernah dikerjakannya.

Lalu Rasul mengakhiri hadits tersebut dengan “Wa khaliqinnaasa bi khuluqin hasanin” ; “Dan pergauilah manusia dengan akhlak yang mulia”.

Puasa mengajarkan pelakunya untuk peduli terhadap sesama, puasa yang diiringi oleh taqwa mengajarkan betapa kedermawanan itu menjadi ciri khas orang yang beriman. Maka di penghujung Ramadhan, Allah perintahkan setiap diri untuk menyisihkan zakat fitrah untuk mengikis keegoan diri, membersihkan jiwa, dan menyempurnakan ibadah puasa. Tidak boleh ada kelaparan pada hari yang Fitri ini, tidak ada air mata yang jatuh karena lambungpara fuqara dan masakin merintih dalam lapar dan dahaga, semua insan harus dalam jaminan kebahagiaan dan keceriaan. Kebahagiaan karena lulus dari madrasah Ramadhan dengan predikat sarjana Muttaqin. Dan itulah sejatinya Kemenangan bagi orang-orang yang beriman.

Semoga Allah memberikan jaminan bagi kita semua untuk menyandang gelar Muttaqin tersebut, dan memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya bagi kita semua untuk dapat kembali menjumpai Ramadhan di tahun yang akan datang. Aamiin Aamiin Ya Robbal ‘aalamiin.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khotbah II

 

(7x)الله أكبر

الله أكبر كبيراً ، والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلاً .
الحمد لله الذي استحمد بفضله، ورضي الحمد شكرا من خلقه، أحمده وأستعينه وأؤمن به وأتوكل عليه، وأشهد ألا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، وبعد

عن أبي هريرة رضى الله عنه عن الرسول صلى الله عليه وسلم قال: أتَدرونَ من المُفلِسُ؟ إنَّ المُفلسَ من أُمَّتي مَن يأتي يومَ القيامةِ بصلاةٍ وصيامٍ، وزكاةٍ، ويأتي وقد شتَم هذا، وقذَفَ هذا، وأكلَ مالَ هذا، وسفكَ دمَ هذا، وضربَ هذا، فيُعْطَى هذا من حَسناتِه، وهذا من حسناتِه، فإن فَنِيَتْ حَسناتُه قبلَ أن يُقضَى ما عليهِ، أُخِذَ من خطاياهم، فطُرِحَتْ عليهِ، ثمَّ طُرِحَ في النَّارِ

Dari Abi Hurairah RA berkata, bersabda Rasulullah saw : “Tahukah kalian siapaitu orang yang bangkrut(muflis)? Yangbangkrutdariumatkuadalah yang kelak menghadapiharikiamatdenganberbekalshalat, puasa, zakat, tapimasihsajamencelaini, memakiitu, menyikathartasiini, menumpahkandarahsiitu ataumemukulsiini.Akibatnya, kebaikan-kebaikan yang diaperbuat di dunia pun ikutmenyusutdanhabis tak berbekas.Tatkalakebaikannyatelahmenjadinol, nihil, sirna, yang dihitungdandilemparkankewajahnyahanyacatatankejahatan.Hanyalahkejahatan! Kejahatanitulah yang membuatnyajustruterlemparkedalamneraka!”

Na’udzubillah tsumma na’udzubillah. Semoga kita semua terhindar dari nasib golongan yang sedemikian.

أسأل الله تعالى أن يجعلنا من المقبولين، وأن يختم لنا بخير وأن يجمعنا على خير، ثم صلوا وسلموا على خير الورى، فقد أمركم بذلك ربكم تبارك وتعالى

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليماً

اللهم صل وسلم وبارك على نبينا وقدوتنا محمد بن عبد الله، وارض اللهم عن خلفائه الراشدين، وعن الصحابة والتابعين، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، وعنا معهم برحمتك يا أرحم الراحمين.

اللهم أصلح لنا ديننا الذي هو عصمة أمرنا وأصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا وأصلح لنا آخرتنا التي إليها معادنا، ولا تجعل الدنيا أكبر همنا ولا مبلغ علمنا ولا تجعل مصيبتنا في ديننا، وأصلح أئمتنا وولاة أمورنا، وآمنا في أوطاننا ، واشف مرضانا ، وارحم موتانا، وبلغنا مما يرضيك آمالنا، واختم بالباقيات الصالحات أعمالنا

اللهم إنا نسألك خير المسألة، وخير الدعاء، وخير النجاح، وخير العمل، وخير الثواب، وخير الحياة، وخير الممات، وثبتنا وثقل موازيننا، وحقق إيماننا، وارفع درجاتنا، وتقبل صلاتنا وصيامنا، واغفر خطيئاتنا، ونسألك الدرجات العلى من الجنة .
اللهم إنا نسألك فواتح الخير، وخواتمه، وجوامعه وأوله وآخره، وظاهره، وباطنه

اللهم إنا نسألك أن ترفع ذكرنا، وتضع وزرنا، وتصلح أمرنا، وتطهر قلوبنا، وتحصن فروجنا، وتنور قلوبنا، وتغفر لنا ذنوبنا، ونسألك الدرجات العلى من الجنة

وتقبل الله طاعتكم، وكل عام وأنتم بخير، وأدام الله أفراحكم في دياركم العامرة، والحمد لله رب العالمين .

تقبل الله منا ومنكم.

Selamat Idul Fitri, Minal ‘aidinal faizin.

Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

*) Wakil Ketua II STIKes Al-Insyirah Pekanbaru

(Disampaikan pada khotbah Idul Fitri 1 Syawwal 1440 H / 05 Juni 2019 di Lapangan Kuning, Jl.Lokomotif, Kec.Lima Puluh, Kota Pekanbaru)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.